KAB. BANDUNG | MPNews – Peluncuran Program Percepatan Penurunan Stunting LPS-CARE Indonesia di Kabupaten Bandung pada Jumat (4/10/2024) telah menuai kontroversi. Program yang diprakarsai oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini dihadiri oleh sejumlah pejabat penting, termasuk Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa dan Wakil Ketua Dewan Komisioner Lana Soelistianingsih. Namun, fokus program ini dipertanyakan, dengan kritik yang tertuju pada penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada para pejabat dan perangkat desa, alih-alih kepada masyarakat yang membutuhkan.
Fokus Program Dipertanyakan
Program LPS-CARE Indonesia yang bertujuan untuk mempercepat penurunan stunting di Kabupaten Bandung telah menimbulkan pertanyaan tentang fokus sebenarnya dari program ini. Penyaluran BLT kepada para pejabat, termasuk kepala desa, jajaran BPD, perangkat desa, dan Kader PKK, telah memicu kritik bahwa program ini lebih memprioritaskan para pejabat ketimbang masyarakat yang membutuhkan.
Nilai BLT yang diberikan bervariasi, antara Rp.200.000 hingga Rp.300.000. Pertanyaan muncul, apakah program ini hanya sekadar simbolis dan hanya untuk mencitrakan kepedulian terhadap para pejabat?
Alokasi Anggaran Pemerintah untuk Stunting
Kritik terhadap program LPS-CARE Indonesia juga menyoroti alokasi anggaran pemerintah untuk mengatasi stunting. Pemerintah telah menggelontorkan anggaran besar untuk mengatasi stunting melalui kerja sama antar kementerian dan lembaga. Pertanyaan muncul: kemanakah alokasi anggaran pemerintah untuk mengatasi stunting?
Kabupaten Bandung sendiri memiliki angka stunting yang cukup tinggi, mencapai 25 persen, melebihi rata-rata nasional. Program “LPS Peduli Negeri” perlu dievaluasi secara menyeluruh untuk memastikan bahwa program ini benar-benar bermanfaat bagi masyarakat, terutama anak-anak yang rentan stunting. Transparansi dalam penyaluran bantuan dan fokus pada target yang tepat sangatlah penting untuk keberhasilan program ini.
“Program LPS-CARE Indonesia, yang diluncurkan di Kabupaten Bandung telah memicu kontroversi terkait fokus dan transparansi program. Kritik yang muncul menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap program ini untuk memastikan bahwa bantuan yang diberikan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkan, terutama anak-anak yang rentan stunting. Transparansi dalam penyaluran bantuan dan fokus pada target yang tepat sangatlah penting untuk keberhasilan program ini.*
Penulis : Wawan Suhendi