KAB. BANDUNG | MPNews – Rapat Koordinasi Pengelola Wisata Kecamatan Pangalengan, Rabu (22/1/2025), menghasilkan terobosan penting dalam dua sektor krusial, pariwisata dan penanganan stunting.
Rapat dihadiri Apdesi Kecamatan Pangalengan, Kepala Desa Marga Mukti dan Pulosari, serta stakeholder terkait, menghasilkan strategi terintegrasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Satgas Wisata, Garda Terdepan Pariwisata Pangalengan, Anggota DPRD Kabupaten Bandung dari Fraksi PAN yang juga peserta POR DPRD, Yadi Supriadi, salah satu hasil kunci rapat adalah pembentukan Satgas wisata yang melibatkan unsur Forkopimcam, TNI, Polri, dan Satpol PP. Langkah ini dipicu oleh potensi besar pengembangan wisata di lahan HGU PTPTN 1 & 2 Regional seluas hampir 500 hektare, meliputi area Perhutani dan PT Indonesia Power. Kawasan ini mencakup destinasi wisata populer Taman Langit Sukaluyu. Rahong Pinus 3 desa Pulosari, Carita Alam Wayang Windu desa Marga mukti, Situcilenca desa Warnasari, Situ Datar Margaluyu, Cibolang desa Wanasuka dan banyak lagi destinasi wisata di wilayah Pangalengan indikasi tak berijin resmi dari pihak terkait terutama di lahan HGUperkebunan teh yang menawarkan panorama alam yang memukau.
Anggota DPRD Kabupaten Bandung, Yadi Supriadi (Fraksi PAN), dalam sambutannya mengingatkan pentingnya pengawasan dan evaluasi ketat untuk mencegah pelanggaran dampak lingkungan yang sebelumnya beberapa lokasi wisata. Satgas Wisata terutama titik zona merah lahan HGU kurang lebih hampir 500 hektare belum lahan Perhutani dan Lokasi kawasan Indonesia power dalam hal ini diharapkan mampu menjaga kualitas dan keamanan destinasi, mendorong kepatuhan terhadap regulasi, dan memastikan pendapatan masyarakat lokal meningkat secara berkelanjutan.
Dalam hal ini Vena Andriawan, S.STP, M.Si sebagai PLT Camat Pangalengan, bahas perangi Stunting, Data Akurat, dan Program Tepat Sasaran.
Rapat juga membahas secara intensif strategi penanganan stunting di Pangalengan. Vena Andrian menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap program DTSK dan PMT agar tepat sasaran dan efektif. Data akurat dan akuntabel dari kepala desa menjadi kunci keberhasilan. Pentingnya Perdes khusus penanganan stunting juga ditekankan untuk memberikan landasan hukum yang kuat.
Program PMT saat ini telah menjangkau 182 anak yang mengalami stunting, wasting, dan underweight, serta 58 ibu hamil dengan kondisi Kurang Energi Kronis (KEK). Data terbaru mengenai angka stunting di Pangalengan akan menjadi dasar untuk penyusunan strategi yang lebih terarah dan terukur.
Rapat koordinasi ini menandai komitmen kuat untuk membangun pariwisata berkelanjutan dan mengatasi masalah stunting secara terintegrasi. Kolaborasi yang solid antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan upaya ini. Langkah-langkah konkret selanjutnya akan segera diimplementasikan untuk mencapai target yang telah ditetapkan.* Wanhendy